Thursday, July 21, 2011

Kopral Djono Adventures >>> Prolog

Sebagaimana kebanyakan orang mengenalku, aku dilahirkan sebagai anak laki-laki dari keluarga sederhana yang kemudian diberi nama Arya Abimanyu. Tinggal di kompleks pemukiman yang jauh dari kota, dengan penduduk yang tidak sebanyak perkotaan, membuat masa kecilku dipenuhi dengan permainan-permainan di lapangan luas, sawah, pegunungan dan sungai-sungai kecil yang mengalirkan air yang dingin dan segar. Bermain di alam bebas membuat tubuhku tampak lebih segar, sehingga banyak orang menilai aku mempunyai tubuh atletis.

Sidokertorejo, demikian nama desa tempat tinggalku. Berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, 30 km dari kota Solo, merupakan daerah perbukitan yang masih alami. Dengan pepohonan yg menjulang tinggi menutupi rumah-rumah, dan pematang sawah yang cukup luas dibelah dengan aliran sungai selebar 3-4 meter, cukup sebagai sumber pengairan untuk sawah. Sebuah pemandangan yang sangat menarik. Membuat suplai oksigen begitu melimpah dan udara selalu segar. Rata-rata suhu udara di siang hari berkisar antara 27-30 oC. Suatu anugrah kesejukan yang tidak didapat di lingkungan perkotaan pada umumnya.

Seperti biasa, setelah sholat ashar secara berjamaah di mushola, aku bersama teman-temanku berkumpul di lapangan depan mushola, berjalan bersama-sama untuk bermain di sebuah lapangan kecil di dekat sungai di areal persawahan. Lapangan tersebut memang biasa dipakai bermain-main anak-anak dari beberapa kampung sekitar lapangan tersebut. Bermacam-macam permainan sering kami lakukan di lapangan selebar bervariasi sekitar 7-10 meter yang memanjang mengikuti aliran sungai, yang sebenarnya merupakan daerah lupan air sungai jika musim penghujan tiba. Tetapi permainan yang paling sering kami lakukan adalah sepakbola mini ataupun perang-perangan. Perang-perangan dengan menggunakan granat air merupakan permainan favorit bagi kami. Granat yang dibuat dari plastik kecil yang diisi dengan air sungai merupakan senjata satu-satunya bagi tiap pasukan kecil tersebut.

Saat itu, kami berlima bersama-sama berangkat ke lapangan tepi sungai tersebut. Aku, Andi, Judin, Dani dan Nita. Nita adalah satu-satunya anak perempuan yang sring ikut bermain bersama-sama dengan kami sejak kecil. Mungkin karena temannya sesama anak perempuan kebetulan jauh dari rumah dia atau karena dia sedikit tomboy, saat itu aku belum terpikirkan. Rumah kami saling berdekatan dan kami satu kelas di SD Sidokertorejo, sehingga kami sudah sangat akrab satu dan yang lainnya.

Sampai di lapangan, kami sudah ditunggu dengan kelompok lain dari kampung seberang sungai, yang biasa menjadi lawan kami dalam bermain perang lempar granat, demikian kami namai permainan itu. Masing-masing dari kelompok kami memiliki pemimpin sebagai pengatur strategi kelompoknya. Strateginya sebenarnya simple, hanya bagaimana cara menempatkan teman-teman dan memancing lawan agar keluar dari persembunyiannya, agar kemudian bias dibombardir dengan granat air. Granat airnya pun ditentukan jumlahnya di tiap-tiap kelompok, sehingga jumlahnya sama antara kelompok-satu dengan satunya. Bagi siapa nanti yang basah karena kena lemparan granat air kelompok lawannya, maka dia tidak boleh main atau lempar granat lagi, tetapi granat airnya bisa dipakai oleh anggota kelompok yang lainnya. Dan jika granatnya habis, maka dia hanya bias bertahan dengan menghindar dari serangan granat kelompok lawannya. Begitulah aturan mainnya. Dan bagi kelompok yang kalah, maka sebagai hukumannya, maka dia harus menggendong kelompok lawannya menyeberangi sungai yang tidak begitu dalam, hanya sedalam tinggi lututku, bolak-balik.

Dari kelompok kami, biasanya sebagai pengatur strateginya adalah Judin, tp dari 10 kali main, kelompok kami hanya menang 4 di awal, dan selanjutnya selalu kalah. Hal ini karena mereka merekrut anggota baru yang pintar dalam mengatur strategi. Kali ini, teman-teman menunjuk aku untuk menjadi pengatur strateginya. Strategi yang aku tawarkan sederhana, tapi butuh kerjasama yang kompak dari temen-temen dan dibutuhkan temen yang pandai berlari dan menghindar dengan cepat. Akhirnya aku tunjuk Andi yang punya kecepatan lari lebih cepat dibanding kami semua. Sedangkan yang lainnya bersembunyi ditempat yang aman.

Setelah permainan dimulai, kami pun sembunyi di tempat yang aman, di cekungan sawah, dibalik batu besar di tepi sungai, di balik pohon perdu yang rimbun, dan sebagainya. Sedangkan Andi menjaga jarak agar bebas dari lemparan tapi tetap masih terlihat dari lawan. Sambil memancing lemparan musuh dan menghindar dari lemparan lawan, dia bergerak maju mundur, sambil sesekali melempar kea rah lawan. Ketika lawan sudah terpancing, maka paling tidak jumlah granatnya akan banyak berkurang, sedangkan kami secara sembunyi-sembunyi mendekat kearah lawan dari arah samping, hingga posisi lawan tidak terlndungi lagi, dan dirasa cukup dekat maka granatpun kami lempar tanpa sepengetahuan lawan.

Dengan strategi tersebut, akhirnya kami menang dan sebagai imbalannya, hadiah gendongan menyeberangi sungai pun kami dapat, bolak-balik. Dan sejak saat itu, aku pun mendapat julukan baru, katanya temen-temen waktu itu sih, kenaikan pangkat, dengan nama KOPRAL DJONO. Entah kenapa waktu itu temen-temen memanggilku Kopral Djono, mungkin Kopral adalah pangkat yang familiar bagi kami, tanpa tahu posisi dari kepangkatan militer itu sendiri. :)


edsLeipziger20110726